close
Banner iklan disini
..::: ..::Semoga Di Awal Tahun ini - Banyak Manfaat Yang kita Dapatkan..::..Selamat Datang Di ITBI..::..AYO GABUNG BERSAMA ITBI..::..Ikatan Terapis Bekam Indonesia..::..Bagi Anggota ITBI ketika mendaftarkan diri dan belum melampirkan fotocopy KTP dan surat Pernyataan Keanggotaan , Mohon mengirimkan secepatnya ke alamat email : informasi.online@yahoo.co.id..::..Belum Menjadi Anggota ITBI...?, Silahkan Daftar Di sini....... .::. Bantu Kami Dalam Mendakwahkan Pengobatan Islam dengan Menebar Link WWW.i-tbi.org di blog dan Website Anda, Serta Menebarkan LINK LOGO ITBI..::..Semoga Allah SWT Membalas kebaikan semua.AMIN ...::..Bagi yang telah mendaftarkan diri sebagai Anggota ITBI secara Online dan Belum melampirkan nomor urut ATM, tanggal dan jumlah tranfer atau nomor bukti cetak bukti setoran tunai, dimohon melampirkannya agra sertifikat keanggotaan dapat dibuat dan dikirimkan....:::...Bagi Anggota yang membutuhkan Rekomendasi ITBI silahkan kirimkan via email surat permohonan Rekomendasi dari ITBI

Asia Tenggara Butuh Terobosan Medis

Ikatan Terapis Bekam Indoensia - ITBI - Memperingati HUT ASEAN ke-45 , organisasi medis kemanusiaan internasional MSF (Médecins Sans Frontières/Dokter Lintas Batas) mengimbau pemerintah negara-negara di Asia Tenggara untuk lebih meningkatkan terobosan medis melalui upaya penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) guna memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat di kawasan ini.

Terobosan baru di perlukan guna mengatasi beberapa kendala medis seperti diagnosa dan penanganan TBC akibat resistensi obat; perbaikan upaya penanganan malaria; pengembangan antibiotik baru guna mengatasi berbagai penyakit infeksi mematikan akibat meningkatnya resistensi; penganganan HIV bagi anak-anak; ketersediaan obat-obatan serta vaksin bermutu dengan harga terjangkau.

“Terobosan medis saat ini belum begitu mewakili dan memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di negara-negara Asia,” kata Michelle Childs, direktur unit advokasi kebijakan Access Campaign MSF dalam siaran persnya.

“Sistem R&D yang ada saat ini masih bias dan berfokus pada keuntungan komersial ketimbang memprioritaskan kesehatan masyarakat. Penelitian-penelitian medis hanya berpaku pada bidang-bidang yang membawa keuntungan besar saja sehingga banyak kebutuhan medis seperti penanganan penyakit tropis atau TBC di negara-negara miskin kurang mendapat perhatian,” tambahnya.

Menurut MSF, saat ini berbagai upaya uji coba obat-obatan dan diagnosa medis dikembangkan berdasarkan perhitungan potensi pangsa pasar, bukan berdasarkan kebutuhan pasien. Hanya 1 persen obat-obatan yang telah ada di pasaran dalam 30 tahun terakhir ini dikembangkan untuk penyakit-penyakit tropis atau TBC, yang sudah tidak begitu efektif lagi karena resistensi.

Ditambah dengan sistem monopoli yang diterapkan perusahaan farmasi, harga obat-obatan pun menjadi sangat mahal sehingga sulit terjangkau oleh pemerintah dan masyarakat - contohnya obat-obatan HIV terbaru. Salah satu penyebab utama adalah hak paten yang dimiliki perusahaan farmasi, yang sekaligus memberikan izin monopoli selama 20 tahun kepada perusahaan tersebut. Di banyak negara Asia Tenggara di mana masyarakat tidak memiliki asuransi kesehatan serta harus membeli sendiri obat-obatan, tingginya harga obat-obatan merupakan persoalan hidup atau mati.

"Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan upaya R&D yang cost efefective guna menghasilkan berbagai terobosan medis yang mudah diakses serta terjangkau oleh masyrakat luas.” jelas Dr. Tido von Schoen-Angerer, direktur eksekutif Access Campaign MSF. (*)





Sumber : Kompas

Editor :
Asep Candra
Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Loading...