close
Banner iklan disini
..::: ..::Semoga Di Awal Tahun ini - Banyak Manfaat Yang kita Dapatkan..::..Selamat Datang Di ITBI..::..AYO GABUNG BERSAMA ITBI..::..Ikatan Terapis Bekam Indonesia..::..Bagi Anggota ITBI ketika mendaftarkan diri dan belum melampirkan fotocopy KTP dan surat Pernyataan Keanggotaan , Mohon mengirimkan secepatnya ke alamat email : informasi.online@yahoo.co.id..::..Belum Menjadi Anggota ITBI...?, Silahkan Daftar Di sini....... .::. Bantu Kami Dalam Mendakwahkan Pengobatan Islam dengan Menebar Link WWW.i-tbi.org di blog dan Website Anda, Serta Menebarkan LINK LOGO ITBI..::..Semoga Allah SWT Membalas kebaikan semua.AMIN ...::..Bagi yang telah mendaftarkan diri sebagai Anggota ITBI secara Online dan Belum melampirkan nomor urut ATM, tanggal dan jumlah tranfer atau nomor bukti cetak bukti setoran tunai, dimohon melampirkannya agra sertifikat keanggotaan dapat dibuat dan dikirimkan....:::...Bagi Anggota yang membutuhkan Rekomendasi ITBI silahkan kirimkan via email surat permohonan Rekomendasi dari ITBI

IDI: Iklan Testimoni TCM Lecehkan Profesi Dokter

Ikatan Terapis Bekam Indonesia - ITBI - Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Prijo Sidipratomo Sp Rad menilai, iklan testimoni pengobatan traditional chinese medicine (TCM) yang banyak disiarkan media, terutama televisi, telah melecehkan profesi dokter.

"Terus terang saja, iklan testimoni itu sangat melecehkan kemampuan dokter. Karena tidak ada dokter yang dapat mengobati penyakit kronis hanya dengan datang 1 atau 2 kali langsung sembuh," kata Prijo ketika ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Penyakit kronis seperti diabetes, lanjut Prijo, tidak bisa disembuhkan hanya dengan berobat selama dalam 4 atau 5 kali penanganan dan minum obat tertentu. Untuk mengatasi diabetes, penderita harus rajin mengontrol gula darahnya secara rutin serta mengubah pola makannya. Gaya pengobatan instan seperti yang ditawarkan klinik-klinik TCM, menurut Prijo, tidak bisa menyembuhkan penyakit kronis, seperti diabetes, gagal ginjal, dan kencing manis.

Prijo mempertanyakan pula, mengapa masyarakat lebih memilih menghabiskan biaya puluhan juta rupiah untuk sekali datang berobat ke klinik TCM, tetapi langsung protes membayar jasa dokter.

"Masyarakat tidak masalah keluarkan uang sampai Rp 25 juta ke klinik TCM. Padahal, belum tentu sembuh dan uniknya mereka tidak menuntut. Beda kalau sama dokter. Dokter menarik biaya jasa Rp 200.000 sudah teriak mahal, tetapi untuk Rp 25 juta mereka diam saja," kata Prijo.

Terlepas dari fenomena tersebut, hal paling krusial dari persoalan kesehatan masyarakat saat ini, menurut Prijo, adalah masih minimnya akses kesehatan serta regulasi yang lemah dari pemerintah. Sebuah negara tanpa akses kesehatan memadai bagi masyarakatnya akan menyuburkan praktik klinik pengobatan yang belum bisa dijamin kualitasnya.

"Akses kesehatan itu di sini kalau orang sakit maka biayanya keluar dari kantongnya sendiri. Tetapi, kalau di negara lain tidak karena negara yang menanggung lewat sistem asuransi. Menghadapi segala macam iklan seperti itu, mereka tidak akan terpancing karena lebih peduli kesehatannya," ujar Prijo.



Sumber : Kompas

Editor :
Asep Candra

Previous
Next Post »
Comments
0 Comments
Loading...