close
Banner iklan disini
..::: ..::Semoga Di Awal Tahun ini - Banyak Manfaat Yang kita Dapatkan..::..Selamat Datang Di ITBI..::..AYO GABUNG BERSAMA ITBI..::..Ikatan Terapis Bekam Indonesia..::..Bagi Anggota ITBI ketika mendaftarkan diri dan belum melampirkan fotocopy KTP dan surat Pernyataan Keanggotaan , Mohon mengirimkan secepatnya ke alamat email : informasi.online@yahoo.co.id..::..Belum Menjadi Anggota ITBI...?, Silahkan Daftar Di sini....... .::. Bantu Kami Dalam Mendakwahkan Pengobatan Islam dengan Menebar Link WWW.i-tbi.org di blog dan Website Anda, Serta Menebarkan LINK LOGO ITBI..::..Semoga Allah SWT Membalas kebaikan semua.AMIN ...::..Bagi yang telah mendaftarkan diri sebagai Anggota ITBI secara Online dan Belum melampirkan nomor urut ATM, tanggal dan jumlah tranfer atau nomor bukti cetak bukti setoran tunai, dimohon melampirkannya agra sertifikat keanggotaan dapat dibuat dan dikirimkan....:::...Bagi Anggota yang membutuhkan Rekomendasi ITBI silahkan kirimkan via email surat permohonan Rekomendasi dari ITBI

Hadist dan Upah Bekam



Ikatan Terapis Bekam Indonesia - ITBI - Berikut ini akan dibahas pembahasan tentang upah tukang bekam disertai dalil-dalilnya dari Al-Qur-an dan as-Sunnah as-Shohihah dari berbagai sumber dan litelatur.

Berikut ini hadits-hadits yang berkaitan dengan upah tukang bekam:

Hadits Pertama:

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَنْ كَسْبِ الْحَجّامِ، وَكَسْبِ الْبَغِيّ، وَثَمَنِ الْكَلْبِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam melarang dari upah tukang bekam, upah dari pezina dan upah dari jual beli anjing.”  (HR. Ahmad 2/299 no. 7976 (cet. Ar-Risalah),  Shohih  Lihat Nailul Author Tahqiq Subhi Hasan Hallaq 10/421)

Hadits Kedua:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَنْ كَسْبِ الْحَجّامِ

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang mencari rizki/upah melalui profesi praktek/tukang bekam”   [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 2165.  Shohih   Lihat Shohihul Jami’ no. 6976].

Hadits Ketiga:

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ: كَسْبُ الْحَجّامِ خَبِيثٌ، وَثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ، وَمَهْرُ الْبَغِيّ خَبِيثٌ

Dari Raafi’ bin Khudaij radhiallaahu ‘anhu, : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “upah tukang bekam adalah buruk/kotor/keji, hasil jual beli anjing adalah buruk/kotor/keji, dan mahar (upah) pezina adalah buruk/kotor/keji”. (HR. Ahmad di al-Musnad 3/464, Abu Dawud no. 3421, At-Tirmidzi no. 1275, An-Nasa-i no. 4294, Ibnu Hibban dalam Shohihnya no. 5152,  Shohih   Dishohihkan oleh Syaikh Albani dalam kitab at-Ta’liqatul Hisan ala Shohih Ibni Hibban no. 5130)

المقصود بالخبيث هناك الرديء كما قال تعالى: {وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ} [البقرة:267] يعني: الرديء، وليس خبيثاً بمعنى حرام.

Berkata Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad – dalam Syarah Sunan Abi Dawudnya 23/391: “Maksud dari   khobits  di dalam hadits tersebut adalah buruk/hina/kotor sebagaimana ayat “dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya” (QS. Al-Baqaroh 267). Maksudnya adalah buruk/hina/kotor. Dan khobits maknanya bukan haram.”

Hadits Keempat:

Dalam Shohih Muslim tercantum hadits serupa dengan hadits diatas, lafazh yaitu :

ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ، وَمَهْرُ الْبَغِيّ خَبِيثٌ، وَكَسْبُ الْحَجّامِ خَبِيثٌ

“Hasil jual beli anjing adalah buruk/kotor/keji, hasil usaha pezina adalah buruk/kotor/keji, dan upah tukang bekam juga buruk/kotor/keji” [HR. Muslim no. 1568.  Shohih   Lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 3622].

Hadits Kelima:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ: مِنَ السُّحْتِ كَسْبُ الْحَجّامِ، وَثَمَنُ الْكَلْبِ، وَمَهْرُ الْبَغِيّ

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Termasuk usaha yang haram adalah upah para tukang bekam” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam Syarah Musykil al-Atsar no. 4661;  Shohih   Lihat Subulus Salam 2/115].

Imam As-Son’ani dalam Subululus Salam 2/115 mengatakan : “Sukht disitu adalah tidak adanya kebaikan.”

Hadits Keenam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ , قَالَ: " ثَلَاثٌ كُلُّهُنَّ سُحْتٌ: كَسْبُ الْحَجّامِ , وَمَهْرُ الْبَغِيّ , وَثَمَنُ الْكَلْبِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda: “Tiga penghasilan yang haram/tercela yaitu upah tukang bekam, dan mahar (upah) pezina adalah buruk/kotor/keji, hasil jual beli anjing adalah buruk/kotor/keji,” (HR. Ad-Daruquthni no. 3064,  Shohih   dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 2990)

Hadits Ketujuh:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ احْتَجَمَ وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wassalam pernah berbekam dan memberikan kepada tukang bekam upahnya. (HR. Ibnu Majah no. 2164.  Shohih  Lihat Shohih Ibni Majah no. 2164, Mukhtashor Samail Muhammadiyah no. 309)

Hadits Kedelapan:

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: احْتَجَمَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَأَمَرَنِي فَأَعْطَيْتُ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Dari ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu, dia berkata : “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam dan menyuruhku untuk memberikan upah kepada tukang bekamnya” (HR. Ibnu Majah no. 2163 dan Mukhtashar Asy-Syamaail Al-Muhammadiyyah, hal. 188 no. 310 Shohih  )

Hadits Kesembilan:

Dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma :

أَنّ النّبي صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ دَعَا حَجَّامًا فَحَجَمَهُ وَسَأَلَهُ: كَمْ خَرَاجُكَ؟ فَقَالَ: ثَلَاثَةُ آصُعٍ. فَوَضَعَ عَنْهُ صَاعًا وَأَعْطَاهُ أَجْرَهُ

“Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengundang Abu Thoyiba (tukang bekam), lalu ia membekam beliau. Setelah selesai, Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya : “Berapa pajakmu ?”. Ia menjawab : “Tiga sha’”. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membatalkan satu sha’ (dari setoran yang harus dibayarkan kepada majikannya karena sang majikan mensyaratkan pajak/setoran dari jasanya), kemudian memberikan upahnya.” (Shohih   Imam At-Tirmidzi dalam Mukhtashar Asy-Syamaail Al-Muhammadiyyah, hal. 188 no. 312)

Hadits Kesepuluh:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: « احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ » وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ

“Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma pernah berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan upah kepada pembekamnya. Seandainya upah bekam itu haram, niscaya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberinya” (HR. al-Bukhori no. 2103, Shohih  )

Hadits Kesebelas:

عَنِ ابْنِ مُحَيّصَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي إِجَارَةِ الْحَجّامِ، فَنَهَاهُ عَنْهَا، فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلْهُ فِيهَا حَتَّى قَالَ لَهُ: " اعْلِفْهُ نَاضِحَكَ، وَأَطْعِمْهُ رَقِيقَكَ

“Dari Ibnu Muhayyishoh, dari bapaknya (Muhayyishoh) radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya ia pernah meminta ijin kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menyewa tukang bekam. Namun beliau melarangnya. Ia terus memohon dan meminta ijin kepada beliau, hingga beliau shallallahu'alaihi wassalam berkata kepadanya : ‘Hendaknya upahnya diberikan untuk makan untamu dan budakmu” (Hadits Diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dalam Musnadnya 2/166, Abu Dawud no. 3422, Ahmad 5/436, At-Tirmidzi no. 1277, Ibnu Majah no. 2166, dan yang lainnya; Shohih  )

Hadits Keduabelas:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَجْرِ الحَجَّامِ، فَقَالَ: احْتَجَمَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ، حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ، وَأَعْطَاهُ صَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ، وَكَلَّمَ مَوَالِيَهُ فَخَفَّفُوا عَنْهُ، وَقَالَ: «إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الحِجَامَةُ، وَالقُسْطُ البَحْرِيُّ»

“Dari Shahabat Anas bin Malik radhiallahu’anhu, bahwasannya beliau pernah ditanya tentang upah tukang bekam, maka beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam telah berbekam pembekamnya adalah Abu Thayiba, lalu setelah itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam memberikan kepadanya dua sho’ dari makanan, dan beliau shallallahu’alaihi wassalam berdialog dengan majikannya Abu Thoyiba agar diringankan pajak/setoran wajibnya (yang dibebankan sang Majikan kepada Abu Thoyiba setiap harinya), Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wassallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian berobat dengannya yaitu berbekam/hijamah dan qusthul bahri (akar kering seperti pasak bumi bentuknya dan pahit rasanya dapat dibuat serbuk dan bermanfaat untuk sakit tenggorokan, panas, paru-paru dan yang lainnya.)" (HR. Al-Bukhori no. 5696 dan Muslim no. 1577 (62)  Shohih  )

Dalam Kitab Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori 4/459, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menguraikan tentang perbedaan pendapat di antara para ulama. Hal ini sebagaimana juga termaktub dalam kitab Nailul Author – (10/423-424 Tahqiq Syaikh Subhi Hasan Hallaq), Imam asy Syaukani memberikan penjelasan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai upah tukang bekam dalam hal menyikapi hadits-hadits tentang pelarangan dan bolehnya mengambil upah.

Perbedaan tersebut secara ringkasnya adalah sebagai berikut:

Mengharamkannya. Ini adalah pendapat beberapa ahli hadits yang memakai dalil dari hadits Abu Hurairah – hadits pertama tentang haramnya upah tukang bekam.
Pendapat yang mengharamkannya adalah tertolak berdasarkan hadits ketujuh hingga kesepuluh karena telah shahih riwayat bahwasannya Nabi Shallallahu’alaihi wassalam pernah memberikan upah kepada tukang bekam.

Jumhur ulama berpendapat usaha tukang bekam adalah halal dengan membawa nash-nash larangan kepada makruh tanzih bukan pada pengharaman.

Berdasarkan hadits Anas (nomer 7 dan 12) dan Ibnu Abbas (nomer 10). Hal itu karena Hijamah itu dibutuhkan oleh kaum muslimin ketika diperlukan namun upah dari bekam adalah sesuatu yang hina/kotor. Ini juga dikuatkan oleh Hadits Muhayyisah yang menganjurkan upah dari bekam digunakan untuk memberi makan ternak dan budaknya. Kalau larangan itu berarti pengharaman niscaya Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam tidak memerintahkan untuk memberi makan dari sesuatu yang haram kepada ternak maupun budak.

Ada juga yang berpendapat bahwa larangan mengambil upah dari praktek bekam hukumnya telah mansukh (dihapus).

Ini adalah pendapat Ath-Thahawiy (Lihat Syarah Ma’anil Atsaar 4/131). At-Thahawi mengira bahwa kemungkinan dari larangan itu hukum asalnya adalah haram kemudian dihapuskan dan berubah menjadi mubah. Sedangkan Naskh pengapusnya itu tidak bisa tetap hanya dengan adanya kemungkinan saja tanpa dalil yang jelas tentang mana hadits yang lebih dahulu dan mana hadits yang datang belakangan (Lihat Fathul Bari 4/459). Selain itu, pendapat diatas juga hanya bisa diterima jika jalan penggabungan tidak memungkinkan. Sedangkan dalam kasus ini, jalan penggabungan masih sangat dimungkinkan.

Ibnul Arabi (Lihat Aridhotul Ahwadzy 5/276-277) menjamak/menggabungkan hadits larangan dan bolehnya upah bekam dengan syarat apabila tukang bekam memasang tarif tertentu, maka usahanya tersebut tidak dibenarkan. Namun jika tidak, maka dibenarkan. Pendapat Ibnul Arabi ini adalah pendapat yang dapat diperhitungan untuk menggabungkan hadits larangan dan bolehnya upah bekam.

Dari kelima pendapat tersebut, pendapat yang paling rajih adalah pendapat jumhur (membawa pelarangan pada makna makruh tanzih) (Lihat Nailul Author X/424)

Hal ini sebagaimana perkataan At-Tirmidzi :

وَقَدْ رَخَّصَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَغَيْرِهِمْ فِي كَسْبِ الحَجَّامِ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ

“Sebagian ahli ilmu dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan selainnya memberikan keringanan dalam hal upah tukang bekam. Dan itulah yang menjadi pendapat dari Asy-Syaafi’iy” [Lihat Sunan At-Tirmidzi setelah hadits no. 1278].

Imam Ibnul Qayyim berkata berkaitan dengan hadits Anas (hadits no 12):

وَفِيهَا دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ التَّكَسُّبِ بِصِنَاعَةِ الْحِجَامَةِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَطِيبُ لِلْحُرِّ كْلُ أُجْرَتِهِ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيمٍ عَلَيْهِ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَعْطَاهُ أَجْرَهُ وَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ أَكْلِهِ وَتَسْمِيَتُهُ إِيَّاهُ خَبِيثًا كَتَسْمِيَتِهِ لِلثَّوْمِ وَالْبَصَلِ خَبِيثَيْنِ، وَلَمْ يَلْزَمْ مِنْ ذَلِكَ تَحْرِيمُهُمَا.

Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bolehnya penghasilan/upah dari praktek bekam, walaupun tidak baik bagi orang yang merdeka untuk memakan upah praktek bekam namun tidak mengandung pengharaman, karena Nabi Shallallahu’alaihi wassallam memberikan upah kepada pembekamnya dan tidak melarang Abu Thoyiba untuk memakannya. Dan penyebutan “Khobits” (kotor) dari upah bekam itu adalah sebagaimana penyebutan dari bawang putih dan bawang merah sebagai “Khobitsaini” (dua buah kotoran) dan hal itu tidak mengharuskan konsekuensi bahwa keduanya sebagai barang yang haram. (Lihat Zaadul Maad 4/63)

Syaikh Abdul Karim al-Khudhoir berkata dalam kitabnya Syarah al-Muwaththo Imam Malik: Larangan Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam di atas adalah larangan yang masuk dalam makruh littanzih (makruh yang lebih dekat kepada yang halal). (Lihat Syarah Az-Zarqani Alal Muwaththo’ 4/609).

Di tengah fenomena merebaknya pengamalan pengobatan sunnah yaitu berbekam banyak yang diselubungi dengan keinginan untuk menggantungkan mata pencaharian semata-mata dari upah bekam, tidak ada salahnya namun jangan sampai memberatkan pasien atau orang yang kita bekam.

Dan biasanya dengan modal nekat dan ilmu yang pas-pas-an banyak saudara-saudara kita membuka praktek-praktek bekam dengan mengindahkan celaan dari hadits-hadits yang shohih diatas. Bekam itu memang diperuntukkan kepada setiap muslim namun tidak setiap muslim itu dianjurkan untuk menjadi pembekam, hal itu bisa dilihat dari sekian banyak hadits dari Baginda Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, hanya nama Abu Toyibah sajalah yang dianggap sebagai pembekam Nabi, kalaulah bekam itu mudah dan dianjurkan kepada para shahabat Nabi radhiallahu’anhum tentunya akan banyak penyebutan pembekam Nabi Shallallahu’alaihi wassalam selain dari Abu Toyibah. Oleh karena tidak bisa setiap orang tanpa ilmu yang cukup bisa menjadi pembekam.

Dengan demikian dari kacamata Ikatan Terapis Bekam Indonesia berdasarkan kumpulan hadist dan pendapat para ulama  di atas dan melihat dari berbgai sumber, bahwasanya upah bekam bisa di katakan haram, bisa dikatakan makruh , bahkan bisa dikatakan halal.

Haram jika memberatkan orang lain, makruh jika memang dijadikan ladang komersial, dan halal jika sama - sama memberikan barokah ( pembekam dan yang di bekam) 

Namun dari semua itu setiap praktisi bekam dapat menyimpulkan beberapa hadis mengenai upah bekam di atas, saran kami dari Ikatan Terapis Bekam Indonesia, diperbolehkan adanya upah dalam membekam namun jangan sampai memberatkan pasein, apalagi fasilitas yang kita berikan adalah pas-pasan.

Karena dalam membekam diperlukan modal dalam praktek pemebekamannya, jika yang di bekam tidak memberikan upah kepada yang membekam, maka sama mudhorotnya menyusahkan yang membekam. 

Pada dunia pengobatan bahkan berupa klinik kesehatan adanya beberapa peraturan standarisasi bahkan berupa ISO yang menjadikan pengoperasian klinik harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Maka bila fasilitas klinik bekam memang sesuai standart dan memiliki fasilitas kesehatan dan kestrelilan yang tinggi, maka wajar jika mereka meminta tarif yang agak mahal mengingat biaya operasional dan alat yang tinggi, namun begitu ada klinik yang fasilitas dan standarisasinya biasa saja dan hampir memenuhi standarisasi, bisa murah bahkan tidak dipatok. 

Jadi tinggal kebijaksanaan kita saja, baik pembekam dan yang ingin berbekam untuk memilih mana yang mereka sukai dan minati, jangan sampai terjadi, ketika setelah dibekam , pasien shok dengan harga patokan yang diberikan dengan keunggulan praktek bekam yang kita miliki.

Semoga ini bisa menjadi masukan, bila ada hal yang memang kurang disepakati, mari kita sama-sama cari solusi terbaik untuk kemaslahatan umat dan dakwah pengobatan sunah Rasulullah. Jangan sampai karena beberapa penafisran hadist yang belum mengena pada situasi saat ini melemahakan dakwah kita untuk memeajukan pengobatan sunah Rasul "Bekam".

Sumber : Di Olah dari Berbagai Sumber.

Previous
Next Post »
Comments
1 Comments

1 komentar:

Click here for komentar
Anonim
admin
31 Oktober 2012 21.47 ×

ijin copy paste yaaa..

Congrats bro Anonim you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar
Loading...